HAMKA

Sebelum Janur Kuning Melengkung

“Sebelum janur kuning melengkung, apakah aku masih bisa berharap ? Apakah harapan ini masih memiliki harapan untuk terwujud ?” Hatiku berbisik.

Aku tertegun sejenak tatkala tak sengaja menatap sebuah janur kuning yang melengkung di gerbang masuk sebuah gedung yang biasa disewa sebagai tempat untuk melaksanakan resepsi pernikahan. Di janur itu tergantung sepasang nama yang sama sekali tidak kukenal. Hanya saja, janur kuning itu mengingatkanku pada sebuah undangan pernikahan yang tidak pernah sekalipun aku harapkan. Bahkan aku rasa, aku membenci undangan itu.

“Tiit tiiiit …” Suara klakson beberapa kendaraan yang mengantre di belakangku terdengar nyaring, menyadarkanku yang terhanyut ke dalam lamunan akibat janur kuning itu. Ternyata lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau. Dengan cekatan, aku segera menginjak pedal gas, mengemudikan mobil, dan berusaha fokus ke jalanan yang ada di depan.

Jam kerja seharusnya berakhir tiga jam yang lalu. Namun, aku memaksakan diri untuk tetap bekerja agar sejenak melupakan pedih di dada. Meskipun aku tahu, itu sama sekali tak membantu. Akibatnya, sekarang bukan hatiku saja yang terluka, tapi fisikku pun ikut menggerutu menahan rasa pegal dan sakit. Terlebih, setelah kedatangannya semalam, aku sama sekali tidak bisa terlelap dalam tidur. Yang ingin aku lakukan hanyalah menangis dan meratap.

Setelah menutup rapi garasi, aku berjalan masuk ke dalam rumah. Dengan langkah gontai dan tatapan kosong, aku berjalan lurus. Tak menghiraukan siapapun yang ada di sekitar.

“Kau baru pulang Al ?”

Aku sedikit tersentak dan segera menoleh ke asal suara. Aku hampir saja melewati mama yang ternyata menungguku pulang di ruang tamu dengan rajutan sweater di tangan.

“Eh, hmm, Mama.” langkahku terhenti. “I…iya Ma”

Mama beranjak, melangkah menghampiri. Ia memeluk erat tubuhku, membelai lembut kepalaku. Tak biasanya dia menungguku. Aku rasa, dia tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

“Mama tahu, ini bukan hal yang mudah. Jika kamu ingin menangis, menangislah. Jangan ragu untuk melepaskannya. Tapi mama mohon, jangan mengabaikan kesehatanmu, nak. Mama kawatir kamu jatuh sakit”

“I…iya Ma” aku tergugup. Sekuat tenaga membendung air mata. Bagaimanapun juga, aku harus kuat, setidaknya dihadapan mama.

“Baiklah, mama pergi ke kamar ya. Mama sangat lelah hari ini.” Mama melepaskan pelukannya. “Kuatlah, hm? Jangan larut terlalu lama.” Sejenak, kedua tangan mama menggenggam kedua tanganku. Aku mengangguk dan melepaskan langkah mama.

Mataku beralih ke seonggok undangan bisu bertuliskan Aldi dan Dian yang tersimpan rapi di atas meja. Aku membenci undangan itu hingga aku tidak menyentuhnya sama sekali. Seketika bayangan Aldi di malam kemarin kembali menyeruak. Ia datang untuk mengantar undangan pernikahannya, hadir dihadapanku dengan lengkungan senyum yang bagiku sulit untuk dijelaskan. Jika melihat latar belakangan kedatangannya, pastilah senyuman temanku itu adalah sebuah ungkapan kebahagiaan. Ya, aku rasa, Aldi, seorang teman yang telah aku cintai selama 10 tahun terakhir tengah berbahagia saat itu.

Mengingatnya, membuat bendungan air mata yang baru saja kubangun, luluh lantah seketika. Tak ingin mama mendengar isakanku, aku segera meninggalkan ruangan itu dan berdiam diri di kamar. Terduduk di kursi, menelengkup di atas meja kerja. Sudah cukup rasanya aku menahan rasa perih yang bahkan membuatku sulit untuk bernafas hari ini.

Semua ini terasa tak adil bagiku. Bagaimana bisa Aldi mengabaikanku. Walaupun aku tidak mengungkapkannya, aku yakin, ia tahu akan perasaanku. Ia jahat padaku. Ia tak pernah memberiku kesempatan. Sungguh, aku benar-benar mencintainya sejak sepuluh tahun yang lalu. Melihat sikap baiknya padaku, membuat harapan demi harapan tumbuh, dan tetap tumbuh bagaikan bunga bougenville yang tumbuh dengan baik di segala cuaca. Tak peduli hujan menerjang, tak peduli kemarau menerpa, harapan memilikinya selalu ada.

Aku mempertahan harapan ini bukan tanpa alasan. Berkali-kali aku menghamparkan sajadah, bersujud dalam shalat istikharah, terlarut dalam doa, memohon petunjuk kepada Yang Kuasa tentang seseorang yang akan menjadi imamku kelak. Tapi, hanya Aldi yang betah menetap di hatiku. Hal ini meyakinkanku bahwa Aldi adalah orangnya. Ya, benar-benar tak ada yang lain.

Peristiwa ini menunjukkan padaku bahwa keyakinanku selama ini salah. Keyakinan yang membuatku bertahan dalam kesendirian hingga 27 tahun usiaku adalah sebuah kesalahan. Tingkahku yang menutup rapat hatiku untuk beberapa orang yang datang dengan terang-terangan kepada Papa dan Mama agar bisa bersanding denganku adalah kesia-siaan.

Diantara semua ini, hal yang paling menyedihkan adalah harapan untuk menjadikan Aldi sebagai orang yang kuabdikan kelak masih hidup dan berkobar di dalam sanubari terdalam. Karena jujur, dibalik senyuman yang Aldi tampakkan padaku, aku melihat keraguan di sorot matanya yang tajam. Sehingga, hatiku berbisik “Tak apa Alvi, sebelum janur kuning melengkung, kau masih bisa mengharapkannnya.”

Ah, entahlah. Jika hatiku berwujud, aku akan menggertak, memintanya untuk menerima kenyataan dan berhenti bersikap bodoh dengan menyakiti diri sendiri.

“Alvi…”

Suara lembut Mama menelusup seiring terdengarnya ketukan pintu. Tanpa berpikir panjang, aku meraih beberapa lembar tisu. Mata sembab dan hidung yang memerah, membuatku kesulitan untuk mengilangkan jejak tangis. Tapi setidaknya, mama tidak boleh melihat wajahku membasah akibat tumpahan air mata. “Ada apa ma …?” Aku membuka pintu.

“Ada seseorang yang memaksa ingin bertemu denganmu.”

“Selarut ini? siapa ma?” aku menggernyit.

Sesosok pria yang tak asing muncul dari arah ruang tamu.

“Aldi ?”

Aldi mendekat, sejenak menghembuskan nafas kasar, terlihat mengumpulkan niat.

“Maafkan aku, Alvi.” Suaranya terdengar sedikit parau, menyiratkan rasa bersalah.

Aku mengangguk, mencoba melengkungkan senyuman walaupun menyakitkan. “Tak apa Aldi, aku baik-baik …”

“Maafkan aku, karena mengabaikan perasaanku padamu, demi menghargai perasaan Dian, Alvi. Jujur, aku lelah karenanya. Jadi aku membatalkan pernikahanku” Aldi memotong, ia membuat nafasku tercekat. “Menikahlah denganku, Alvi” pungkasnya.

Karya : Tya Hikmatul Aliyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *